Foto Bertema

Sebuah foto sebaiknya mempunyai satu pesan tema atau pokok pikiran yang menjelaskan kepada orang yang melihatnya. Sehingga bagian objek yang lain yang masuk dalam bingkai berfungsi sebagai aksesoris untuk mendukung, menjelaskan tema utama. Lebih sempit lagi foto mempunyai satu pusat perhatian utama atau point of interest (PoI) yaitu bagian mata terhenti pada suatu titik fokus yang paling menarik setelah menjelajahi seluruh bagian foto. Nah, jika foto tidak mempunyai PoI akan terkesan hambar, apalagi pengambilan gambar salah fokus, PoI kabur sedangkan bagian lain justru tajam. Foto yang baik pada umunya jika objek utama tajam dan lainnya kabur (blur) istilah dalam fotografi Depth of Field.

Bagian lain yang tidak kalah penting dalam fotografi adalah posisi objek dalam bingkai dan komposisi warna, gelap terang antara bagian yang menarik dan kurang menarik. Posisi objek di atas, tengah  atau bawah, 1/3 bagian atau satu bingkai penuh akan membantu menciptakan foto yang menarik. Keseimbangan warna dan penempatan objek lebih banyak dipengaruhi oleh keterampilan fotografer, pada bagian ini kamera yang canggih tidak akan banyak membantu.

PoI menjadi bagian yang sangat penting dalam fotografi. PoI pada umumnya dibuat lebih tajam, warna yang berbeda, warna yang cerah dibanding dengan bagian yang melatarbelakangi atau objek sekitarnya agar menarik perhatian. Jika tidak ada perbedaan ketajaman antara pusat perhatian dan bagian lain maka objek utama menjadi kurang bermakna. Akan tetapi jika seluruh bagian gambar merupakan objek yang semuanya menarik, misalkan objek yang dipotret adalah pemandangan, maka tajam pada seluruh bagian juga baik dan PoI dibuat pada objek yang warna dan bentuknya mencolok.

Lanjutkan membaca “Foto Bertema”

Fotografer Amatir dan Profesional

Saya kutip pernyataan Arbain Rambey untuk memotivasi peserta pada suatu workshop fotografi yang juga dibuat status akun Twitter @arbainrambey, “Fotografer profesional dan amatir bedanya cuma:  dibayar atau tak dibayar.  Tak ada konotasi keahlian pada kedua frase itu…” Sebagai pakar fotografi dia juga memberi motivasi pada peserta workshop agar senantiasa belajar, belajar, dan belajar untuk mencapai hasil terbaik. Tidak ada hasil fotografi yang salah, sebuah foto yang tidak fokus, kabur, ataupun terpotong. Untuk tujuan apa foto dibuat menentukan baik atau buruk suatu foto.

Saya sendiri belajar fotografi untuk persiapan mengisi kegiatan lima belas tahun nanti. Syukur kalau pada masa depan itu ada yang membayar alias fotografer profesional. Namun saat ini tujuan fotografi terbatas pada kebutuhan untuk hiburan dan hasilnya pun sangat jauh dari sempurna.

Pengalaman fotografi, memotret banyak objek dan pengetahuan tambahan tentang objek yang dipotret sangat penting. Pada suatu event workshop fotografi yang menjuarai foto, saya amati mereka yang telah berpengalaman. Contohnya pada juara pada kategori satwa, ketika peserta lain berlari kesana-kemari memotret satwa sebanyak-banyaknya dari kandang satu ke kandang lain, si calon juara hanya berdiam pada satu objek satwa. Waktu satu jam yang diberikan panitia digunakan untuk menunggui satu satwa saja. Ketika saya tanya, “Kok tidak pindah tempat Mas?” “Nunggui ekspresi reptil itu menjulurkan lidahnya”, jawabnya. “Kapan akan menjulurkan lidahnya?” tanyaku lagi. “Setiap 30-60 menit sekali”, jawabnya. Nah, untuk mendapatkan foto yang baik, moment yang tepat perlu usaha dan pengetahuan tentang objek.

Lanjutkan membaca “Fotografer Amatir dan Profesional”