Kembali ke Dunia Maya

Saat menulis dan posting artikel ini hampir tiga tahun sejak terakhir posting di blog ini pada 20 Januari 2017. Selama mengurangi eksistensi di dunia maya, saya berkontemplasi untuk mengevaluasi, memikirkan, dan merenungkan tentang kehidupan diriku kok dari tahun ke tahun menuruti kebiasaan yang begitu-gitu saja. Hasilnya dalam kurun tiga tahun tersebut yang pasti berat badan bertambah banyak, artinya timbunan lemak meningkat yang pasti juga mengurangi sensitivitas rasa. Kesimpulan semakin gemuk semakin tidak peka dalam segala hal. Saya mohon maaf yang telah kirim komentar namun tidak kami setujui karena jumlah komentar yang ribuan, saya hapus semua, tidak sanggup memisahkan mana komentar yang manusia beneran dan robot yang mengirim spam, meskupin telah dipasang anti-spam.

Hari ini saya membuat resolusi online karena ternyata volume otak saya yang jarang dipakai untuk berfikir, membaca, dan menulis, fungsinya akan semakin menurun, cepat lupa dan loading lambat. Berbeda dengan barang produksi pabrikan jika jarang dipakai akan mulus dan awet. Entah ada yang membaca tulisan ini atau tidak, tidak aku pedulikan karena tujuan untuk menjaga agar otak tetap berfungsi optimal.

Sekarang keinginan warganet untuk membaca artikel dalam bentuk teks telah menurun, ganti dengan nonton video karena lebih mudah dan praktis untuk dimengerti. Video-video tutorial baru semakin marak di YouTube dibanding jumlah tutorial yang ditulis dalam bentuk teks. Beberapa puluh tahun lagi, cara mengungkapkan ide dalam bentuk tulisan teks mungkin saja akan punah.

Kehadiran di dunia maya, di sosial media, masa kini merupakan salah satu indikator eksistensi bahwa orang tersebut masih hidup di dunia nyata, di atas bumi ini. Jika saya akan melihat status teman-teman dunia maya kami, apakah beliau masih hidup di dunia nyata atau meninggal adalah dengan melihat perubahan status di akun media sosial. Apabila di dinding kommentar, status telah dikomentari, mendapat ucapan, Selamat Jalan Teman Terbaikku, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun (Islam), Rest in Peace (Non Islam), dan ucapan sejenisnya, maka mereka telah meninggal. Kemunculan seseorang di dunia maya adalah salah satu indikator bahwa orang tersebut masih sehat wal afiat.

Ritual kembali ke dunia maya yang berubah sangat cepat, mengalami beberapa hambatan ketika berniat kembali posting di blog. Versi WordPress 4.7.1 saat terakhir update awal Januari 2017, kini telah mencapai versi 5.3 yang kurun waktu tersebut telah mengeluarkan update puluhan kali. Begitu juga Hypertext Preprocessor (PHP) semula menggunakan versi 5.4 kini tidak didukung lagi dan telah mencapai versi 7.3. Untungnya update WordPress dari 4.7.1 ke 5.3 dan dari PHP 5.4 ke 7.3 tidak mengalami masalah (error) dengan mengganti theme bawaan WordPress. Konon, dengan mengganti WordPress dan PHP terbaru blog akan loading lebih enteng dan lebih aman. Saya sempat was-was dengan update ke versi PHP 7.3 akan error karena ada perubahan radikal penulisan kodenya dibanding versi 5.4. Namun setelah mengaktifkan modul ekstension mysql di PHP versi 7.3 error tidak ada lagi.

Salah satu perubahan norma, etika, standarisasi dalam dunia internet selama saya berkontemplasi yang layak dipenuhi adalah Secure Socket Layer (SSL). Karena jika tidak menggunakan SSL situs, blog akan dicap (dianggap) tidak aman oleh browser. Pertukaran komunikasi data antara perangkat pengunjung dan server tidak dienkripsi, dengan sertifikat SSL maka akan dilindungi oleh public key dan private key sehingga komunikasi akan aman. Para pengembang browser dan Google seolah-olah memaksa pemilik website untuk mengamankan dan mengenkripsi data yang berada dalam jaringan internet karena akan dilabeli Not Secure setiap kali visitor mengunjungi website HTTP.

Label Not Secure tersebut memaksa kami untuk memasang sertifikat SSL. Karena blog ini tidak menghasilkan uang, pilihan jatuh pada SSL termurah jenis SSL Single Domain yang hanya melindungi satu site dalam satu domain saja, hanya berlaku untuk main domain atau satu subdomain saja. Padahal blog ini menaruh file statis, gambar di subdomain atau CDN dengan tambahan URL akses folder static di public_html cPanel. Dengan memakai SSL Single Domain setiap artikel yang ada gambar di folder static ada peringatan gembok kuning bahwa tidak semuanya dilindungi oleh SSL. Kemudian memaksa kami untuk memindahkan semua file yang ada di folder static ke folder bawaan wordpress di domain agar ikon gembok menjadi hijau.

Abrakadabra jeng jeng…. Kemudian terjadilah error gambar tidak mau tampil karena URL di artikel tidak mengarah pada gambar yang link file dimaksud pada artikel. Dengan query SQL untuk update semua URL hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit, bereslah semua error.

Kini blog sudah dapat mengikuti perkembangan zaman dengan wordpress dan PHP terbaru serta menggunakan sertifikat SSL dengan HPPTS. Semoga ini menjadi awal untuk terus semangat menulis dan posting di blog.

Leave a Reply