Teori Jendela Pecah

James Q. Wilson dan George Kelling mengenalkan Teori Jendela Pecah (broken windows theory) – The police and neighborhood safety di majalah The Altantic Monthly edisi Maret tahun 1982. Penulis buku, George L. Kelling, lalu menjadi konsultan untuk New York City Transit Authority pada tahun 1985.

Apabila sebuah bangunan dengan bagian jendela yang pecah tidak diperbaiki dan dibiarkan begitu saja, maka siapapun yang lewat cenderung menyimpulkan di rumah itu pasti tidak berpenghuni. Kemudian dalam waktu singkat akan ada lagi jendela yang pecah,  kemudian berkembang perusakan bagian bangunan yang lain dan anarki akan menyebar ke sekitar tempat bangunan itu. Kejahatan bersifat menular sama seperti trend mode pakaian. Dari hal-hal yang semula dianggap remeh seperti pecahnya sebuah kaca jendela yang dibiarkan, maka perbuatan lain yang serupa segera menyebar ke seluruh wilayah, akibat dari sebuah ketidakteraturan yang diabaikan.

Suatu kota yang kumuh, kotor, coretan di dinding-dinding jalan, fasilitas umum dan kerusakan di mana-mana akan disimpulkan oleh para penjahat bahwa mereka punya tertangkap relatif kecil karena kepedulian masyarakat sekitar tidak ada. Masyarakat tidak akan peduli untuk segera menghubungi polisi andaikan tahu mereka melakukan kejahatan. Segala jenis kejahatan lain akan berkembang di sekitar tempat itu karena tidak ada kepedulian oleh warganya.

Lanjutkan membaca “Teori Jendela Pecah”

Biak – Padaido

Saya ingat sekali ungkapan dari sahabat yang tinggal di Biak Papua yang disampaikan enam tahun lalu. Akronim BIAK (Bila Ingat Akan Kembali). Biak menyimpan sejuta kenangan tentang keindahan alam yang tak terlupakan.

Biak adalah kota kecil yang terletak di Pulau Biak di  Samudera Pasifik. Suasana sosial di kota Biak tidak ada bedanya dengan kota-kota di Pulau Jawa, karena wilayah kota yang sempit di antara bukit dan laut antar penduduk saling mengenal dan sapa seperti di kota kecil di Jawa. Bedanya kalau di Jawa, pertanyaan yang sering diucapkan, “Badhe tindak pundi?” (Mau pergi ke mana?), sedangkan di Papua pada umumnya, “Selamat pagi/siang/malam”  terasa kebarat-baratan.

Nama-nama distrik (kecamatan) atau desa juga keren (dari segi pemasaran dapat dikatakan “menjual banget” sebagai nama promosi), Samofa, Bosnik, Ridge, Mokmer dan lain-lain. Sedangkan di Jawa sering ditemui nama-nama desa yang kurang keren, misalkan, Kandang Sapi, Jumbleng (kakus).

Ketika akan memasuki kota Biak dari arah Bandara Anda akan menjumpai tugu dalam tiga bahasa, selamat datang, welcome to Biak dan Rarama be bye, dan slogan Faiman Indo!. Dalam komunikasi, bahasa tidak usah dikuatiri, karena penduduknya dapat mengucapkan dan menggunakan beberapa bahasa dan Bahasa Indonesia pasti bisa. Keragaman penduduk dari berbagai suku, bahasa Jawa, Bugis, Sunda juga sering terdengar diucapkan sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Dialek lokal penggunaan bahasa Indonesia, beberapa kata disingkat menjadi kalimat pendek. Misalkan; saya pergi (sa-pi) berenang, saya punya (sa-pu) pinang, sudah (su) makan.

Lanjutkan membaca “Biak – Padaido”