Restitusi Pajak dari Zakat

Kemarin, Kamis 20 Desember 2012 demi menjalankan tugas untuk mendapatkan sesuap nasi dan segenggam emas yang halal, saya terjebak kemacetan di jalan tol Surabaya akibat hujan deras. Di dalam kesendirian radio Suara Surabaya frekuensi FM 100 Mhz selalu menemani ketika saya membutuhkan informasi lalu lintas kota Surabaya. Tema talkshow kemarin tentang pajak, di antaranya membahas tentang zakat pengurang penghasilan.

Narasumber talkshow menyatakan zakat sebagai pengurang penghasilan neto. Sedangkan sumber yang lain menyatakan zakat sebagai pengurang penghasilan bruto. Dua pendapat berbeda tidak usah bingung, berdebat, mana yang benar dan mana yang salah. Pendapat keduanya benar.

Pendapat yang menyatakan zakat sebagai pengurang penghasilan neto berpedoman pada form SPT PPh Orang Pribadi (1770) yang meletakkan zakat agar dikurangkan di baris setelah penghasilan neto. Sedangkan yang menyatakan zakat sebagai pengurang penghasilan bruto mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 254 tahun 2010, detil silakan diunduh pada tautan download artikel ini. Konsep PMK zakat disamakan dengan biaya-biaya yang lain yang dapat dikurangkan dari peredaran usaha untuk menentukan penghasilan neto.

Hasil perhitungan zakat sebagai pengurang penghasilan bruto/neto bisa sama jika Wajib Pajak (WP) menghitung dan menyetor sendiri pajak terutang. Namun penghasilan bruto dalam arti telah mengurangkan biaya-biaya yang lain kecuali zakat. Sedangkan jika pajak terutang dipotong oleh pihak lain, maka akan mendapatkan angka yang berbeda sehingga pada saat dimasukkan pada SPT tahunan akan kelebihan bayar. Akan tetapi konsep zakat sebagai pengurang penghasilan bruto berbeda hasil perhitungan dengan konsep zakat sebagai pengurang pajak, baca di sini.

Ilustrasi Pak Agus, beragama Islam dengan istri satu dan dua anak, bekerja di PT Anak Jaya Bapak Senang (AJBS) dengan penghasilan setahun Rp 75.000.000. PT AJBS membuat bukti potong PPh pasal 21 (1721-A1) dengan rincian hitungan tanpa zakat karena bingung, kesulitan karena pada form 1721-A1 tidak tersedia kolom zakat sebagai pengurang penghasilan bruto. Di samping itu juga ragu menafsirkan PMK, boleh atau tidak, bukti bayar zakat dikurangkan/dipotong oleh pemberi kerja. Untuk menjalankan ibadah agamanya, pak Agus disarankan oleh PT AJBS agar menyetor sendiri zakat kepada lembaga yang amil zakat yang disahkan pemerintah.

Pak Agus menyatakan dirinya telah wajib zakat karena penghasilan telah melebihi metode nilai emas 85 gram x 500.000 = Rp. 42.500.000 atau telah melebihi nishab. Dengan demikian dia akan membayar zakat profesi 2,5% dari penghasilan kotor dan zakat fitrah bagi diri sendiri, istri, dan kedua anaknya (4 x Rp 25.000 = Rp. 100.000). Total zakat yang dibayarkan setahun Rp 1.975.000,-

Asumsi penghasilan bruto pada tabel di bawah ini bruto dalam arti telah mengurangkan biaya-biaya lain yang dapat dikurangkan kecuali zakat. Berikut ini ilustrasi perhitungan pajak dan zakatnya:

Uraian

Bruto

Neto

Penghasilan setahun

75.000.000

75.000.000

Zakat mal 2,5%

1.875.000

 
Zakat fitrah 4 anggota keluarga

100.000

 
Total zakat

1.975.000

 
Biaya jabatan 5% x bruto

3.750.000

3.750.000

Total pengurang penghasilan bruto

5.725.000

3.750.000

Penghasilan neto

69.275.000

71.250.000

Zakat pengurang penghasilan neto

 

1.975.000 

PTKP Kawin 2 tanggungan

19.800.000

19.800.000

Penghasilan kena pajak

49.475.000

49.475.000

PPh tarif 5%

2.473.750

2.473.750

Apabila pajak dihitung dan disetor sendiri maka zakat dikurangkan sebagai pengurang penghasilan bruto atau neto hasilnya sama. Dengan demikian tidak masalah mengurangkan pajak berdasarkan pemahaman zakat sebagai penghasilan bruto atau neto.

Pada tabel berikut PT AJBS tidak mengurangkan zakat pada perhitungan pemotongan pajak 1721-A1 maka perhitungannya pada kolom tanpa zakat. Alasannya PT AJBS mempunyai pendapat bahwa zakat hanya dapat dikurangkan sebagai pengurang penghasilan bruto, patuh mengikuti PMK 254. Rincian berikut ini:

Uraian

Dengan Zakat

Tanpa Zakat

Penghasilan bruto setahun

75.000.000

75.000.000

Zakat mal 2,5%

1.875.000

 
Zakat fitrah 4 anggota keluarga

100.000

 
Total zakat

1.975.000

 
Biaya jabatan 5% x bruto

3.750.000

3.750.000

Total pengurang penghasilan bruto

5.725.000

3.750.000

Penghasilan neto

69.275.000

71.250.000

Zakat pengurang penghasilan neto

 

 
PTKP Kawin 2 tanggungan

19.800.000

19.800.000

Penghasilan kena pajak

49.475.000

51.450.000

PPh tarif 5%

2.473.750

2.500.000

PPh tarif 15%

 

72.000

Total PPh

2.473.750

2.572.500

Selisih

 

98.750

 

WP orang pribadi yang pajaknya dipotong oleh pemberi kerja akan kelebihan bayar pajak karena pengaruh besarnya penghasilan kena pajak yang belum memasukkan nilai zakat. Pajak yang dibayar jika memasukkan zakat Rp 2.473.750, namun karena dipotong oleh PT AJBS maka potongan Rp 2.572.500, kelebihan potong. Berdasarkan simulasi tabel di atas kelebihan pajak yang dapat diminta kembali (restitusi) Pak Agus adalah Rp 98.750.

Kelebihan pajak yang telah dibayar dapat diminta lagi ke kantor pelayanan pajak tempat WP terdaftar. Meskipun nilai kelebihan pembayaran pajak akibat memasukkan zakat tidak signifikan, akan tetapi di masa depan data pembayaran zakat akan sangat bermanfaat untuk penghitungan pajak. Alasannya jika terjadi perbedaan antara pengakuan penghasilan WP menurut pelaporan pajak (negara) kurang jujur dan zakat (Tuhan) sangat jujur, maka selisihnya dapat digunakan sebagai dasar menghitung dan menagih pajak yang kurang dibayar.

Download aturan pajak tentang zakat klik link Download di bawah ini Unduh Gratis

7 thoughts on “Restitusi Pajak dari Zakat”

  1. Aku punya warnet cabang, tempatnya sewa & yg jagain saudaraku. dia tak keluar modal sedikitpun, tugasnya hanya jaga doang, bahkan perbaikan PC, aku yg kerjakan. Penghasilannya berdasar bagi hasil dg aku. Lantas saudaraku tsb klasifikasinya apa ? kalau disebut wajib pajak orang pribadi pengusaha tertentu rasanya kok tidak pas karena dia tak punya modal sekaligus tak punya resiko sama sekali (pengusaha sekecil apapun khan punya resiko bangkrut). Disebut karyawan juga kok tidak pas karena penghasilannya mengikuti naik turunnya omzet bruto. Dia tak aku gaji tetap agar semangat kerjanya tinggi. Tq

    My answer: Menurut saya pihak yang menjaga/mengoperasikan warnet cocok dianggap sebagai PEGAWAI yg upahnya dibayar berdasarkan komisi/bagi hasil. Karena dia bekerja dan menerima penghasilan dari pemberi kerja (pemilik modal), tidak menanggung biaya perbaikan komputer dlm rangka mendapatkan penghasilannya, kriteria tidak melakukan pekerjaan bebas. Sedangkan jika melakukan pekerjaan bebas, ada unsur biaya untuk mendapatkan, memelihara, dan menagih penghasilan.

  2. Aku baca warteg DKI batal dikenai pajak, namun di daerahku tetap dikenai bila omzet perharinya min Rp 500.000. Iseng2 aku baca perdanya, ternyata ada juga pajak Hiburan…syukur warnet/game center tidak termasuk dalam klasifikasi Hiburan di perda tsb meski di DJP ada di KLU 96000 : Jasa Hiburan & Kebudayaan. Apakah mungkin nantinya dikenai pajak hingga 2 kali berturut turut, dari DJP & Pemda. Bukankah kita bukan Negara Federal, kenapa 1 obyek pajak dikenai berkali kali. Atau bisakah pajak daerah direstitusikan lewat SPT tahunan, namun khan nilainya lebih besar pajak daerah dibanding dari DJP

    My answer: Pajak Daerah dikenakan karena mengonsumsi barang/jasa yg dipajaki daerah, misal jasa hotel, hiburan, makanan di restoran, dan dikenakan kepada pembeli (konsumen) tapi yang menyetorkan pemilik usaha. Pajak daerah itu pajak yg dibayar pembeli.
    Sedangkan pajak pusat (DJP) dikenakan atas penghasilan yg diterima oleh pemilik usaha, dibayar oleh pemilik usaha dari penghasilannya.
    Pajaknya sekali saja, bukan dua kali dalam kasus yang sama.
    Pajak daerah tidak dapat direstitusi lewat SPT pajak pusat, dan sebaliknya.

  3. Ini dari Apakah Semua Pedagang Pengecer Wajib Bayar Pajak? Sedang pd PMK 183 orang pribadi (apapun jenis usahanya) bila punya penghasilan dibawah PTKP tak wajib lapor SPT. Aku artikan bahwa WP OPPT include sebab diatas tertulis “apa pun jenis usahanya. Ini kutipan kedua Dg demikian pedagang pengecer dg penjualan perbulan tidak nihil, berapapun penjualannya, wajib bayar angsuran pajak. Mustahil ada penjualan nihil, Yg ada dibawah PTKP. Kalau dibawah PTKP tentunya khan nggak perlu bayar. Statement kedua ini harusnya berbunyi “…dg penjualan perbulan diatas PTKP wajib bayar angsuran pajak…
    Maaf cuplikan diatas (Apakah Semua Pedagang Pengecer Wajib Bayar Pajak?) terpaksa aku singkat2 agar tak melebihi quota 600 character. Intinya, alangkahnya konyolnya bila WPOPPT yg dibawah PTKP diharuskan bayar angsuran bulanan, kemudian diakhir tahun dia ajukan restitusi SELURUHNYA (100%) dari angsuran bulanan tsb. Demikian seterusnya. Bukankah itu hanya akan merepotkan pegawai pajak. Lagian PMK khan tidak wajibkan WPOP buat SPT bulanan/tahunan bila dibawah PTKP, aku paham itu sebab buat apa pengawai pajak yg jumlahnya terbatas tsb harus disibuki dengan laporan2 NIHIL. Betapa wasting time

    My answer:Ya memang aturan yg kurang sinkron satu dengan yg lain. Satu mewajibkan lapor, satu tidak mewajibkan lapor jika di bawah PTKP. Namun bila dilihat dari sisi edukasi kpd pemegang NPWP aturan tersebut baik yaitu meskipun belum bayar pajak mereka jadi tahu, belajar hitung, bayar pajak seperti para pembayar pajak yg lain tiap bulan ditambah pekerjaan yg merepotkan, hitung, bayar, lapor pajak. Dgn demikian mereka tidak menjadi pengikut saja (free rider), menikmati uang dari pembayar berupa fasilitas umum tapi tidak tahu (tidak mau tahu) proses uang tersebut diperoleh.
    Tentang restitusi 100% jika ternyata di bawah PTKP dapat untuk menarik WP agar pelaporan SPT tidak menjadi rutinitas belaka, hal yg membosankan, menakutkan. Lagi pula proses restitusi WP di bawah PTKP, simpel saja. Mereka akan tersenyum lapor pajak tahunan karena yakin akan mendapat pengembalian uang (restitusi) dari “tabungan” angsuran pajak bulanan. :-)
    Kotak komentar ini saya atur komentar minimum 50 dan maks 600 karakter untuk menghalau spam setelah kuiz anti spam dinonaktifkan. Maaf atas ketidaknyamanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *