Papua dan Jakarta
Tahun lalu Kompas memuat berita menyeramkan, karena tidak dapat memuaskan keinginan atasan, seorang pegawai diancam mutasi ke Papua. Duh, Papua tidak lah lebih menyeramkam dibanding perlakuan atasan terhadap bawahan pada berita tersebut. Ancaman mutasi ke Papua terbukti masih efektif untuk menakut-nakuti para pegawai di Jakarta dengan memberikan citra negatif sebagai tempat buangan. Karena Jakarta merupakan pusat pemerintahan yang menentukan promosi, mutasi, dan karir seseorang maka semakin jauh dari Jakarta, semakin kecil peluang meraih sukses yang pada umumnya diukur dari tingginya jabatan dan banyaknya kekayaan yang dikumpulkan.
Uang beredar secara nasional lebih dari separuh beredar di Jakarta, memberi peluang kepada siapa saja, mulai dari pegawai golongan rendah hingga golongan tinggi dapat mengumpulkan kekayaan fantastis. Kesempatan yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Hal ini mendorong sebagian besar orang berlomba-lomba bekerja di Jakarta demi meraih kekayaan yang sebesar-besarnya.
Berbicara Papua dan Jakarta, ingatan saya terbawa pada pertemuan di pantai terpencil di Papua dengan penduduk setempat yang gagal mengadu nasib sebagai tenaga kasar di pasar Tanah Abang. Gagal menjadi kaum urban di Jakarta lalu dengan kapal putih, kapal penumpang milik PT PELNI yang membawanya kembali ke kampung halaman.