Toko Roti Aru yang terletak di pojok jalan Samratulangi Biak menjadi merk bakery terpopuler di wilayah Papua. Biak dan roti Aru dua kata yang saling berasosiasi, ingat Biak ingat roti Aru dan sebaliknya. Ketika saya mengatakan pada teman niat hendak berkunjung ke kota lain di Papua, maka mereka mengatakan, “Jangan lupa oleh-oleh roti Aru”.
Penduduk di kota-kota di Papua mengenal merk roti Aru sebagai oleh-oleh khas dari Biak. Maka ketika kapal besar milik PT PELNI sandar di pelabuhan Biak pada penumpang belanja oleh-oleh roti Aru. Suasana toko roti sangat ramai pembeli ketika kapal datang.
Toko Roti Aru seperti bakery pada umumnya yang membuat roti, biskuit, pie atau pastry yang berbahan utama tepung terigu, ditambah bahan lain dan perasa misalkan pisang, coklat, atau keju lalu dipanggang dan dikemas dalam plastik. Di Biak toko roti Aru kepopuleran dan rasanya tidak tertandingi dengan roti merk lain. Pesaing utamanya adalah roti buatan toko swalayan terbesar di Biak. Rasa dan kelembutan tepungnya mirip dengan roti produksi toko roti waralaba dari negeri Kincir Angin.
Di masa sekarang kota-kota di Papua tak beda dengan kota-kota di Jawa. Apa yang ada di Jawa di Papua juga ada. Jika ingin makan roti tidak perlu mendatangkan roti matang dari Jawa. Ayam goreng waralaba dari Amerika sebagai simbul globalisasi juga ada di Jayapura, Timika dan Sorong. Beberapa tahun lalu teman saya update status Facebook lagi checkin di Pizza Hut Jayapura. Beberapa temannya mengomentari sebagai status palsu, “Ah kue terang bulan ukuran jumbo, kok dibilang pizza”. Ternyata memang benar, Pizza Hut buka restoran di Jayapura.