Arsip Kategori: Fotografi

Kumpulan foto belajar motret dan artikel yang dibuat berdasarkan pengalaman pribadi. Sekedar berbagi dan catatan harian pengingat bagi diri sendiri. Ya begitulah profil fotografer pembelajar, sedikit ilmu banyak omong, berbeda dengan fotografer profesional yang banyak ilmu dan kesibukan sehingga tidak sempat menulis di blog.

Tips Motret Model Cewek

Pengalaman saya motret model cewek ternyata dunia seni fotografi itu asyik. Fotografi tidak hanya merekam gambar ke kamera tetapi perlu menjalin komunikasi dengan model sebelum dipotret agar hasilnya lebih baik. Ngobrol ringan dan santai akan mencairkan suasana sehingga model tidak kaku dalam bergaya. Fotografi gabungan ilmu dan seni. Saya sebagai amatiran dalam fotografi, karena fotografi merupakan seni, maka saya tidak merasa salah dengan hasil pemotretan yang buruk.

Prinsip dasar saya dalam fotografi, objek dan fotografernya semua harus senang dengan hasil pemotretan. Fotografernya senang dan model melihat hasilnya juga senang sudah cukuplah bagi fotografer amatiran. Syukur-syukur orang lain yang lebih pandai juga senang melihat potretnya. Apabila hasil foto saya rasa model tidak senang jika melihatnya, dan saya juga tidak senang maka foto tersebut akan saya hapus.

Peralatan Motret

Kamera. Jenis kamera DSLR entry level untuk fotografer amatir menurut saya sudah cukup. Asal lensa bisa dilepas-pasang pemotretan akan lebih mudah sesuai kebutuhan, tapi bukan berarti kamera saku (pocket) tidak bisa. Teknologi terkini beberapa kamera saku menghasilkan gambar lebih baik dibanding kamera DSLR. Jika keterampilan mengoperasikan kamera jenis entry level meningkat, kemudian pantaslah beralih ke kamera profesional. Bila belum terampil mengoperasikan kamera entry level, kemudian menggunakan kamera profesional, sayang sekali jika beberapa menu tidak digunakan secara optimal, akan mubazir.

Lanjut membaca

Fotografer Amatir dan Profesional

Saya kutip pernyataan Arbain Rambey untuk memotivasi peserta pada suatu workshop fotografi yang juga dibuat status akun Twitter @arbainrambey, “Fotografer profesional dan amatir bedanya cuma:  dibayar atau tak dibayar.  Tak ada konotasi keahlian pada kedua frase itu…” Sebagai pakar fotografi dia juga memberi motivasi pada peserta workshop agar senantiasa belajar, belajar, dan belajar untuk mencapai hasil terbaik. Tidak ada hasil fotografi yang salah, sebuah foto yang tidak fokus, kabur, ataupun terpotong. Untuk tujuan apa foto dibuat menentukan baik atau buruk suatu foto.

Saya sendiri belajar fotografi untuk persiapan mengisi kegiatan lima belas tahun nanti. Syukur kalau pada masa depan itu ada yang membayar alias fotografer profesional. Namun saat ini tujuan fotografi terbatas pada kebutuhan untuk hiburan dan hasilnya pun sangat jauh dari sempurna.

Pengalaman fotografi, memotret banyak objek dan pengetahuan tambahan tentang objek yang dipotret sangat penting. Pada suatu event workshop fotografi yang menjuarai foto, saya amati mereka yang telah berpengalaman. Contohnya pada juara pada kategori satwa, ketika peserta lain berlari kesana-kemari memotret satwa sebanyak-banyaknya dari kandang satu ke kandang lain, si calon juara hanya berdiam pada satu objek satwa. Waktu satu jam yang diberikan panitia digunakan untuk menunggui satu satwa saja. Ketika saya tanya, “Kok tidak pindah tempat Mas?” “Nunggui ekspresi reptil itu menjulurkan lidahnya”, jawabnya. “Kapan akan menjulurkan lidahnya?” tanyaku lagi. “Setiap 30-60 menit sekali”, jawabnya. Nah, untuk mendapatkan foto yang baik, moment yang tepat perlu usaha dan pengetahuan tentang objek.

Lanjut membaca