Arsip Kategori: Kuliner

Artikel kuliner wisata nusantara ini berisi pengalaman makan dan minum di warung makan kemudian terasa enak dan berbagi cerita di blog ini.

Kuliner Malang

Akhir tahun 2012 keinginan masyarakat untuk melewatkan akhir tahun dan berwisata di Malang sangat tinggi. Jalan raya Surabaya – Malang sangat padat, jalan di dalam kota Malang macet, tempat wisata penuh pengunjung, dan tingkat hunian hotel di Malang dan kota Batu penuh tamu. Saya memutuskan menginap semalam saja di Malang karena akan pergi ke mana-mana terjebak macet.

Pada tanggal 30 Desember 2012 perjalanan Singosari-Lawang yang jaraknya tidak lebih dari 12 km kami tempuh tiga jam, penyebabnya banjir di jalan raya di Lawang akibat selokan meluap. Maklum jalan raya terdekat Malang-Surabaya sejak zaman Belanda hanya satu, sama dengan jumlah lajur rel kereta api, meskipun Indonesia telah merdeka lebih dari setengah abad. Padahal jumlah kendaraan bermotor tiap tahun di Indonesia bertambah jutaan unit.

Setiap kami terjebak macet di jalan utama provinsi, pikiran selalu membayangkan kondisi jalan raya yang kami lalui pada zaman penjajahan Belanda. Zaman dahulu kala, lebar jalan tentu melebihi lebar jalan sekarang dengan jumlah kendaraan yang lewat dapat dihitung dengan jari, dan tanpa kemacetan. Ketika terjebak macet di jalan raya di hutan Ngawi yang penyebab kemacetan adalah jalan sempit, satu arah hanya cukup dilewati satu kendaraan, kendaraan tidak dapat mendahului kendaraan lain. Dalam hati kok bias ya, negara sudah merdeka lebih setengah abad, jalan raya provinsi sesempit ini, padahal kiri dan kanan jalan tanah kosong. Begitu pula ketika mengalami kemacetan saat melewati jalan Raya Daendels yang terbentang dari Anyer-Panarukan, rasanya dari tahun ke tahun tidak ada perubahan signifikan dalam pembangunan lebar jalan. Simpulannya lebar jalan di Jawa Timur sejak zaman Daendels tidak bertambah, justru di beberapa tempat menyempit.

Estimasi saya, beberapa tahun lagi, kemacetan akan semakin parah bila harga bahan bakar minyak (BBM) tidak naik. Karena orang cenderung akan menggunakan kendaraan pribadi karena harga BBM yang ekonomis. Kini, angkutan umum semakin sedikit ditemukan, bahkan pada jalur-jalur tertentu telah punah. Masyarakat beralih ke mobil dan sepeda motor milik pribadi. Lanjut membaca

Biak dan Toko Roti Aru

Toko Roti Aru yang terletak di pojok jalan Samratulangi Biak menjadi merk bakery terpopuler di wilayah Papua. Biak dan roti Aru dua kata yang saling berasosiasi, ingat Biak ingat roti Aru dan sebaliknya. Ketika saya mengatakan pada teman niat hendak berkunjung ke kota lain di Papua, maka mereka mengatakan, “Jangan lupa oleh-oleh roti Aru”.

Penduduk di kota-kota di Papua mengenal merk roti Aru sebagai oleh-oleh khas dari Biak. Maka ketika kapal besar milik PT PELNI sandar di pelabuhan Biak pada penumpang belanja oleh-oleh roti Aru. Suasana toko roti sangat ramai pembeli ketika kapal datang.

Toko Roti Aru seperti bakery pada umumnya yang membuat roti, biskuit, pie atau pastry yang berbahan utama tepung terigu, ditambah bahan lain dan perasa misalkan pisang, coklat, atau keju lalu dipanggang dan dikemas dalam plastik. Di Biak toko roti Aru kepopuleran dan rasanya tidak tertandingi dengan roti merk lain. Pesaing utamanya adalah roti buatan toko swalayan terbesar di Biak. Rasa dan kelembutan tepungnya mirip dengan roti produksi toko roti waralaba dari negeri Kincir Angin.

Di masa sekarang kota-kota di Papua tak beda dengan kota-kota di Jawa. Apa yang ada di Jawa di Papua juga ada. Jika ingin makan roti tidak perlu mendatangkan roti matang dari Jawa. Ayam goreng waralaba dari Amerika sebagai simbul globalisasi juga ada di Jayapura, Timika dan Sorong. Beberapa tahun lalu teman saya update status Facebook lagi checkin di Pizza Hut Jayapura. Beberapa temannya mengomentari sebagai status palsu, “Ah kue terang bulan ukuran jumbo, kok dibilang pizza”. Ternyata memang benar, Pizza Hut buka restoran di Jayapura.

Lanjut membaca