Arsip Kategori: Serbaneka Pajak

Artikel Pajak Lainnya berisi tulisan asal bunyi aneka macam pajak dalam kehidupan sehari-hari. Pajak itu penting dan menarik tapi sedikit yang tertarik dengan aturan pajak yang rumit padahal dalam hidup hanya dua hal yang pasti yaitu PAJAK dan MATI.

Cara Bayar Pajak Kendaraan Bermotor Online

Orang yang sekarang tidak muda lagi yang mengenal komputer atau internet ketika sudah dewasa yang oleh Marc Prensky dalam naskah akademik Oktober 2001 disebut “penduduk digital imigran” (digital immigrants), para imigran digital cenderung gagap produk digital. Imigran digital kurang yakin dokumen output dari produk digital dan mereka lebih suka dokumen dalam bentuk fisik yang dapat dipegang dan diraba yang terdiri setumpuk berkas kertas. Namun anak-anak muda sekarang yang disebut Marc Prensky sebagai “penduduk asli digital” (digital natives), yang mengenal internet sejak mulai dapat membaca dan menulis tidak suka dengan sesuatu yang berbentuk fisik tapi lebih suka sesuatu dalam bentuk digital.

Jika anda suka rela memberikan setumpuk berkas fotokopi STNK, BPKB, KTP dalam map ketika membayar pajak kendaraan bermotor kepada petugas atau anda selalu cetak struk mesin ATM hanya untuk cek saldo, mungkin anda termasuk dalam kelompok penduduk digital imigran. Kini pembayaran pajak kendaraan dan mesin ATM memberi pilihan yang sesuai bagi para penduduk imigran digital dan penduduk asli digital. Lanjut membaca

Restitusi Pajak dari Zakat

Kemarin, Kamis 20 Desember 2012 demi menjalankan tugas untuk mendapatkan sesuap nasi dan segenggam emas yang halal, saya terjebak kemacetan di jalan tol Surabaya akibat hujan deras. Di dalam kesendirian radio Suara Surabaya frekuensi FM 100 Mhz selalu menemani ketika saya membutuhkan informasi lalu lintas kota Surabaya. Tema talkshow kemarin tentang pajak, di antaranya membahas tentang zakat pengurang penghasilan.

Narasumber talkshow menyatakan zakat sebagai pengurang penghasilan neto. Sedangkan sumber yang lain menyatakan zakat sebagai pengurang penghasilan bruto. Dua pendapat berbeda tidak usah bingung, berdebat, mana yang benar dan mana yang salah. Pendapat keduanya benar.

Pendapat yang menyatakan zakat sebagai pengurang penghasilan neto berpedoman pada form SPT PPh Orang Pribadi (1770) yang meletakkan zakat agar dikurangkan di baris setelah penghasilan neto. Sedangkan yang menyatakan zakat sebagai pengurang penghasilan bruto mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 254 tahun 2010, detil silakan diunduh pada tautan download artikel ini. Konsep PMK zakat disamakan dengan biaya-biaya yang lain yang dapat dikurangkan dari peredaran usaha untuk menentukan penghasilan neto.

Hasil perhitungan zakat sebagai pengurang penghasilan bruto/neto bisa sama jika Wajib Pajak (WP) menghitung dan menyetor sendiri pajak terutang. Namun penghasilan bruto dalam arti telah mengurangkan biaya-biaya yang lain kecuali zakat. Sedangkan jika pajak terutang dipotong oleh pihak lain, maka akan mendapatkan angka yang berbeda sehingga pada saat dimasukkan pada SPT tahunan akan kelebihan bayar. Akan tetapi konsep zakat sebagai pengurang penghasilan bruto berbeda hasil perhitungan dengan konsep zakat sebagai pengurang pajak, baca di sini.

Ilustrasi Pak Agus, beragama Islam dengan istri satu dan dua anak, bekerja di PT Anak Jaya Bapak Senang (AJBS) dengan penghasilan setahun Rp 75.000.000. PT AJBS membuat bukti potong PPh pasal 21 (1721-A1) dengan rincian hitungan tanpa zakat karena bingung, kesulitan karena pada form 1721-A1 tidak tersedia kolom zakat sebagai pengurang penghasilan bruto. Di samping itu juga ragu menafsirkan PMK, boleh atau tidak, bukti bayar zakat dikurangkan/dipotong oleh pemberi kerja. Untuk menjalankan ibadah agamanya, pak Agus disarankan oleh PT AJBS agar menyetor sendiri zakat kepada lembaga yang amil zakat yang disahkan pemerintah. Lanjut membaca