Kuliner Tulungagung

Judul ini dibuat dengan agar diindek oleh mesin pencari karena secara SEO merupakan pilihan kata yang tepat. Dengan dicatat Google maka pencari yang menulis kata kunci “kuliner tulungagung” diharapkan akan diarahkan ke artikel ini.

Pada zaman dahulu kala… tahun 2005 kami melewati kota Tulungagung. Tidak seperti sekarang, segala informasi dapat ditemukan dengan mudah dan cepat melalui Google. Tahun 2005 internet layanan internet bergerak masih GPRS dan tarif per KB mahal. Meskipun membawa Laptop tidak dapat tersambung internet melalui layanan seluler sehingga sulit menemukan informasi kecuali bertanya kepada orang setempat.

Sebelum memasuki kota saya menelepon teman bernama Wicak yang asalnya Tulungagung. Percakapan via ponsel, “Mas Wicak… saya lagi di Tulungagung. Tolong dong rekomendasi kuliner yang ada pajaknya di mana?” Kemudian dijawab, “Restoran Ayam Bakar Bu Mamik, dekat stasiun”. “Oke, terima kasih, saya meluncur ke sana” Jawabku. Pada percakapan di atas kriteria “yang ada pajaknya” maksudnya adalah warung makan/restoran yang memungut pajak hotel dan restoran 10%. Bukan sok suka bayar pajak, tapi kode dialek bahwa pada saat itu saya hendak makan di warung/restoran yang agak mahal, bukan warung murah seperti biasanya. Teman saya Wicak juga telah faham maksud kriteria yang ada pajaknya dan tidak ada pajaknya karena telah berteman sajak lama.

Sejak tahun 2005, ketika melewati Tulungagung saya sering makan di restoran Bu Mamik. Letak restoran tidak jauh dari Alun-alun maupun Stasiun kereta api Tulungagung. Tepatnya di Jalan Jaksa Agung Suprapto no 33. Restoran ini juga punya cabang di Malang dan Blitar.

Kuliner Tulungagung tidak yang khas alias berbeda dengan jenis masakan di kota lain di Jawa. Menu masakan ayam lodho, ayam dimasak opor yang ada di Tulungagung sama dengan yang di Trenggalek. Kekurangan menu ayam lodho menurut saya keuletan daging ayam kampung dan kepedasan sehingga kurang cocok selera.

Menu warung yang ramai umumnya yang menjual bakso, pecel, dan warung kopi. Warung kopi banyak bertebaran di pinggir jalan utama kota dan buka hingga pagi. Masyarakat setempat suka minum kopi dan merokok (nyethe). Sisa atau ampas kopi dioleskan pada batang rokok disebut cethe. Cethe itulah yang membuat pengunjung berlama-lama nongkrong di warung kopi.

Apa alasan saya memilih restoran Bu Mamik? Pertama pilihan menu masakannya banyak sekali. Kedua ruangannya kesan jadul, atap tinggi, banyak tanaman, dan udara terasa segar sejuk meskipun tanpa pendingin ruangan. Ketiga harganya masuk akal, tidak terlalu mahal. Keempat rasanya maknyus…

Foto ruangan kesan jadul, masa  tempo doeloe restoran Bu Mamik gambar di bawah.

bu-mamik

Salah satu minuman yang saya sukai di restoran ini adalah jus tape. Rasanya segar…

Juice_Tape

Menu makanan andalan restoran Bu Mamik adalah ayam bakar. Tetapi ayam gorengnya juga nikmat dan empuk. Mungkin dipresto lebih dulu sebelum digoreng. Menu ikan bakar madu atau biasa dan ikan goreng juga tersedia dengan harga lokal yang terjangkau. Harga pada akhir tahun 2012 per ekor ayam +- Rp 40.000.

Ayam_Goreng

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *