Terharu, Gembira, Bangga, dan Geram

Minggu, 17 Februari 2013 saya singgah di rumah ibadah dengan niat untuk beristirahat sejenak. Namun secara kebetulan di lingkungan tempat ibadah yang menyediakan kamar-kamar penginapan gratis dan makanan gratis tersebut sedang ada event kejuaraan nasional olah raga. Pada hari ketiga (terakhir) dari total 800-an atlet yang berasal dari berbagai provinsi, dari raut wajahnya nampak bersemangat menyaksikan dan mengikuti pertandingan hingga final selesai.

Saya terharu melihat minimnya fasilitas bertanding untuk ukuran tingkat kejuaraan nasional. Kenapa begitu menyedihkan, seolah-olah tidak diperhatikan, padahal dari cabang olah raga ini mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Ironi dengan pembangunan pusat olah raga Hambalang yang duitnya bejibun yang konon sebagian dijadikan bancakan sehingga mengakibatkan Menteri Olahraga mengundurkan diri.

Namun setelah berdialog dengan beberapa atlet, saya merasa gembira, karena meskipun dengan fasilitas yang minimalis tetapi raut wajah mereka terpancar sikap percaya diri dan jujur (sportif) memenangkan pertandingan. Sekelompok suporter dari Medan masih semangat, meneriakkan yel-yel mendukung tim dari daerahnya. Begitu pula atlet anak-anak yang masih bersemangat tak beranjak dari tempat berdiri menyaksikan pertandingan senior-senior mereka. Masih ada harapan meraih prestasi di masa depan.

Pada hari minggu itu saya merasa bangga dengan kegiatan olah raga karena di situlah masih terpelihara nilai-nilai kejujuran yang kini nampaknya semakin diabaikan. Jujur diplesetkan “jujur kacang ijo” dan “jujur ajur/hancur”. Saya mencermati pertandingan dan lingkungan sekitarnya merasa telah mendapat siraman rohani. Sebelumnya saya mendapat siraman rohani ketika melihat kotak pendaftaran untuk acara Kompetisi Matematika Nalaria Realistik dengan uang pendaftaran Rp seikhlasnya. Peserta lomba memasukkan uang ke dalam kotak sebelum registrasi ulang ke panitia. Saat melihat anak-anak sekolah dasar bersemangat mengikuti lomba dan guru sebagai panitia yang semuanya gembira membuat hari itu saya gembira juga. Di zaman sekarang masih banyak yang suka rela mengadakan kegiatan yang tidak bersifat komersial semata. Senang rasanya…

Setelah pulang menonton pertandingan sampai di rumah saya menghidupkan televisi yang kadang-kadang saja dihidupkan. Suasana hati berubah jadi geram karena berita tentang rasuah melulu. Uang yang dikumpulkan dari pajak dan penjualan sumber daya alam yang berasal berbagai daerah di Indonesia setelah terkumpul di Jakarta dijadikan bancakan yang beritanya dipertontonkan kepada seluruh masyarakat Indonesia yang pelakunya tak punya malu.

* rasuah (korupsi) untuk penyamaran dan penghalusan karena jika menggunakan lema korupsi terasa kasar dan menjijikkan. Sedangkan penggunaan kata rasuah akan nampak agamis dan seolah-olah sedang melaksanakan ibadah berjamaah dengan khusuk ketika dilakukan oleh partai dakwah.

Foto-foto kejuaraan nasional olah raga berikut ini: Versi besarnya silakan klik langsung Flickr.

uramawashi-geri

 

 

 

 Foto Flickr:

I am not Knock Out

 

Ready to Fight

 

Keage

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email tak dipublikasi. Panjang komentar 100-600 karakter. Wajib Diisi *

5 + 5 =   <= Wajib jawab kuis, sebelum...