Pingdom Tools Alat Analisis Situs Web

Salah satu kriteria penilaian situs web yang baik adalah kecepatan penyajian informasi di peramban (browser) pengunjung situs web. Semakin cepat semakin baik karena pengunjung situs web lebih suka informasi semakin cepat dibuka di peramban. Kecepatan dijadikan faktor penilaian karena kesenjangan kecepatan jaringan internet antara satu daerah dengan daerah lainya, antara satu orang dengan orang lain.

Suatu situs web yang laman Beranda-nya berukuran beberapa Mb tidak menjadi masalah ketika dibuka melalui jaringan Google Fiber, di Kansas Amerika tetapi akan menjadi masalah ketika saya buka dari rumah dengan kecepatan beberapa Kbps. Karena Google Fiber di Kansas mempunyai kecepatan 1Gbps, jika mengunduh file film satu DVD hanya butuh waktu beberapa menit. Sedangkan operator penyedia jasa internet di Indonesia tidak menjanjikan kecepatan minimum, tetapi kecepatan maksimum (up-to) beberapa Mbps yang faktanya jarang sekali ditepati.

Situs web yang cepat akan menambah jumlah pengunjung dibanding akses lambat. Terutama situs-situs yang belum populer. Ketika artikel pada suatu situs diindeks mesin pencari lalu alamatnya dibuka oleh pengunjung tetapi lambat sekali ditampilkan peramban, maka akan ditutup dan ditinggalkan. Pengunjung tidak mau lama menunggu, untuk buka situs yang belum jelas isi, dan belum populer, tidak punya reputasi. Dengan demikian peluang mendapat pengunjung baru akan hilang hanya karena akses yang lamban.

Akan tetapi bagi situs yang populer, punya reputasi, dan isi informasinya bermutu, misalkan Google, Facebook, Youtube, pengunjung rela menunggu hingga informasi tampil di layar perangkat, bahkan akan mengulang buka situs beberapa kali ketika terjadi gangguan akses. Gangguan bisa disebabkan karena server situs web atau jaringan internet yang menghubungkan dari perangkat pengunjung ke server.

Jaringan internet yang menghubungkan perangkat pengunjung ke server tidak dapat dikendalikan pengelola situs web. Tetapi informasi dan pengaturan server dapat dioptimalkan sehingga pengunjung dapat menerima informasi lebih cepat.

Aturan umumnya, semakin kecil ukuran dokumen (minimize) semakin cepat dikirim dan disajikan di perangkat pengunjung situs web. Dengan catatan, pengecilan dokumen harus tetap memperhatikan  kualitas. Salah satu alat untuk mengoptimalkan situs web atau blog adalah Pingdom Tools. Alat-alat optimasi situs web yang lain, di antaranya; Page Speed Insights, GTMetrix, Iweb Tool , Stop Watch, Web PageTest, dan Website Optimization. Aturan dan kriteria situs web yang cepat dari beberapa alat analisis tersebut hampir sama. Cara mengetahui kecepatan situs web sangat mudah, copy-paste alamat situs web /blog yang akan diukur lalu tekan enter di alamat-alamat di atas.

Pingdom Tools mempunyai 12 macam Performance Grade yang harus dimiliki situs web agar mendapatkan nilai 100. Yaitu: Remove query strings from static resources, Serve static content from a cookieless domain, Minimize request size, Leverage browser caching, Minimize DNS lookups, Minimize redirects, Combine external CSS, Parallelize downloads across hostnames, Avoid bad requests, Combine external JavaScript, Specify a cache validator, dan Specify a Vary: Accept-Encoding header. Jika masing-masing mendapat nilai 100 maka nilai totalnya akan mendapatkan 100.

100 adalah nilai yang ideal dan seharusnya menjadi kecepatan maksimum yang mampu diraih suatu situs web. Akan tetapi pada beberapa test pada blog ini nilai tercepat ketika diakses dari peramban pada angka 95/100. Angka turun 5 poin ketika saya mengaktifkan fitur CDN Cloudflare, padahal CDN sangat membantu mengurangi downtime (uptime server 97% per tahun) dan menghemat bandwith.

Screenshot Waterfall berikut ini.

 

Pingdom Tools memberikan informasi tentang banyak permintaan (request) ke server, nama file/path, ukuran file, dan berapa lama permintaan disajikan. Pada bagian (tab) Page Analysis memberikan informasi status requets, OK/Error, informasi lebih terinci. Bagi administrator situs web, alat analisis ini sangat bermanfaat untuk memantau situs web dan mengetahui bagian-bagian yang error.

Screenshot Performance Grade berikut ini

 

Pengalaman saya mengoptimasi blog ini dengan cara pengaturan format tampilan laman blog diatur dari CSS yang disisipkan (embed) atau inline CSS pada HTML. Alasannya karena pengunjung blog ini pada umumnya “tersesat” mengunjungi melalui URL indeks Google, sekali berkunjung dan tidak kembali lagi. Keuntungan pengaturan inline CSS akan mengurangi jumlah permintaan ke server, tetapi kerugiannya ukuran file yang diunduh peramban semakin besar, karena setiap akses artikel di dalamnya ada pengaturan format halaman (CSS). Padahal idealnya CSS diakses sekali melalui URL atau file tersendiri (external CSS) dan disimpan di cache komputer peramban dan diatur melalui .httacces kapan CSS akan expired. Ketika pengunjung membuka ulang situs web, file pengaturan format halaman tidak perlu diunduh karena telah tersimpan dalam peramban.

Karena saya menggunakan CSS internal yang mengakibatkan ukuran file HTML semakin besar, tahap selanjutnya file HTML dikompres untuk mengecilkan ukuran. File yang disajikan ke pengunjung ke dua dan seterusnya pun berupa file statis (cache) yang ada di server. Meskipun ukuran file semakin gemuk, menurut saya kecepatan blog ini masih lumayan.

Satu gagasan untuk “Pingdom Tools Alat Analisis Situs Web

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *