Festival Danau Sentani

Festival Danau Sentani (FDS) dilaksanakan setiap tahun sejak 2008 di Kalkhote di tepi Danau Sentani, Kampung (desa) Ohei, Distrik (kec) Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua. FDS tahun ini akan digelar 19-30 Juni.  Festival menampilkan berbagai tarian dan nyanyian tradisional diiringi peralatan musik tradional, suling, tambur, dan berbagai kegiatan budaya lokal. Para penari datang dari danau layaknya akan perang, tapi dengan raut wajah ceria. Mereka mendarat di lokasi festival dengan membawa perlengkapan perang, seperti busur, anak panah, dan  tombak. Setelah tiba giliran tampil, tidak ada perang maupun penyerangan ke suku lain. Para penari melakukan atraksi tarian perang-perangan. Hai itu semua, pengunjung dan penari tersenyum, berwajah ceria, nampak menikmati acara festival.

Selain itu dijajakan kerajinan dan makanan khas Papua di arena festival. Cendera mata, ukir-ukiran, noken tas khas Papua yang dirajut, pernak-pernik khas suku setempat, dan makanan khas Papua, papeda, ubi, talas, lauk ikan dari Danau Sentani dijajakan di arena semakin menambah semarak festival. Festival Danau Sentani menjadi pilihan tujuan wisata bulan Juni di Jayapura.

Salah satu hambatan wisatawan yang ingin menikmati keindahan Papua adalah mahalnya biaya transportasi. Pulau Papua hanya dapat dijangkau dari Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi dengan kapal laut dan pesawat. Danau Sentani dekat dengan Bandara Sentani, tarif taksi mulai dari 250 ribu rupiah dari Bandara ke arena festival. Jika menggunakan kapal laut tarif taksi dari Jayapura 400 ribuan rupiah. Pilihan murah bagi backpacker yaitu naik angkutan umum (angkutan kota) dengan biaya 20 ribuan rupiah dari Bandara dan 30 ribuan dari pelabuhan.

Bandara Sentani melayani kedatangan penerbangan pesawat puluhan kali setiap hari. Maskapai penerbangan yang melayani rute dari Surabaya, Jakarta atau Makasar ke Bandara Sentani di antaranya, Batavia Air, Garuda Indonesia, Lior Air, Merpati, dan Express Air. Pada masa liburan bulan Juni dan Juli harga tiket pesawat dari Jakarta pulang pergi mulai dari empat jutaan rupiah. Tempat duduk pesawat yang terbatas di masa liburan, wisata ke Papua harus beli tiket pergi-pulang.

Tarian Buaya

Isu yang saya dengar sebelum saya nonton FDS adalah ada ritual tarian memanggil buaya. Konon gerakan-gerakan tarian mampu memanggil buaya datang sendiri dari dalam air danau ke arena festival. Setelah pada saatnya tiba, tenyata tarian buaya membawa buaya besar dari arah danau tapi telah diikat pada batang kayu dan dipikul para penari. Buaya kecil dibawa penari perempuan, ibu-ibu (mace-mace) sambil bergoyang-goyang mengikuti irama musik. Mace adalah sebutan (ibu) dan pace (bapak) bahasa setempat.

Para penari menggunakan aksesoris memanfaatkan tumbuhan dan hewan dari lingkungan sekitar tempat tinggal mereka. Rumbai-rumbai dari tumbuhan, hiasan kepala dari kulit kayu dan bulu-bulu burung, dan pewarna coreng-moreng yang menghias wajah dan kulit katanya berasal dari tumbuhan juga.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *