Homo Homini Lupus

Berhenti Sejenak

Ilustrasi dari Flickr: Berhenti Sejenak (beri kesempatan manusia yang lain)

Thomas Hobbes (1588-1679) mempunyai pendapat bahwa kecenderungan manusia bersikap memusuhi dan mencurigai setiap manusia lain. Homo homini lupus! (manusia adalah serigala bagi sesamanya). Homo homini lupus merupakan ungkapan gejala sikap "manusia cenderung seperti serigala", simbul kekerasan terhadap manusia yang lain dan saling memangsa, dimangsa atau menjadi mangsa, meskipun pada dunia nyata serigala tidak memangsa serigala yang lain.

Dulu saya tidak sependapat dengan pernyataan Hobbes dan lebih setuju dengan pendapat “manusia adalah makhluk sosial”. Namun setelah mengamati fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang tenyata lebih cocok dengan pendapat Hobbes.

Sepanjang perjalanan pulang kerja Jum’at 4 Nopember 2011 dalam cuaca hujan deras saya melakukan kontemplasi sambil mengingat kejadian masa lampau dan kejadian beberapa hari terkahir. Pendapat Hobbes berdasarkan pengalaman dari peristiwa berikut nampaknya relevan di masa sekarang.

Ketika saya melakukan perjalanan ke hutan belantara, puncak gunung, menyeberangi sungai, lautan tidak pernah takut dengan ancaman binatang buas yang hidup di hutan atau di laut. Namun seringkali yang menjadi pertimbangan agar selalu waspada adalah potensi ancaman dari manusia jahat.

Saya melihat rumah yang didirikan di pinggiran hutan tidak sekokoh rumah yang didirikan di tengah kota. Di komunitas masyarakat yang hidup di desa, dekat hutan, ancaman dari binatang buas atau manusia yang jahat lebih kecil daripada masyarakat yang hidup di perkotaan. Meskipun tidak ada binatang buas, faktanya rumah masyarakat yang hidup di perkotaan didirikan dengan kokoh, pagar tinggi, untuk mengantisipasi ancaman dari manusia jahat. Bahkan sekedar untuk berbagi dengan sesama manusia agar dapat melihat keindahan arsitektur rumah mereka saja tidak bisa, karena tingginya tembok yang menutup halaman, bangunan rumah mereka, apalagi berbagi kekayaan kepada manusia lain yang kekurangan.

Beberapa detik sebelum pulang pada hari Jum’at kemarin saya dapat kabar dari teman tentang pejabat di Jakarta yang dua rumahnya digrebek aparat hukum karena dugaan kasus korupsi Rp 12 miliar, Si pejabat tidak ada di rumah karena sedang melakukan ibadah di tanah suci. “Kok bisa? Kok bisa?” Begitu pertanyaan dalam hati yang mengawali langkah menuju rumah. Kok bisa? Kenapa? Alasan pertama karena korupsi kejamnya melebihi serigala betulan yang tidak menumpuk makanan kecuali yang mampu serigala makan saat itu juga. Korupsi mengakibatkan hak manusia yang lain dirampas dan tidak sedikit bayi yang kurang gizi dan meninggal tidak dapat dibiayai oleh negara karena uang negara dikorupsi. Alasan kedua kok bisa Si pejabat tersebut menjadi serigala berbulu domba, setelah korupsi kemudian beribadah ke tanah suci.

Perjalanan ketika cuaca hujan seringkali menghambat pandangan pengendara dan jalan aspal yang tergenang air hujan pengendara mengurangi kecepatan, sehingga karena kehati-hatian bahkan membuat sedikit kemacetan. Dalam situasi seperti itu, pengendara lebih banyak yang tidak sabar, sekedar untuk memberi kesempatan pejalan kaki yang akan menyeberang. Saling serobot, dari kiri-kanan, klakson dibunyikan dengan nada kemarahan. Tidak kah mereka dapat berhenti sejenak untuk memberi kesempatan pada manusia lain jika manusia itu makhluk sosial? Tapi itulah fakta sekarang.

Sampai di rumah saya nonton TV sebentar dan ada teks berjalan di bawah gambar, Duhh… “Pelapor Pencurian Pulsa Dianiaya dan Minta Perlindungan LSPK”, kejahatan hendak menguasai dunia. Semula saya berniat setelah sampai di rumah hendak menghentikan renungan dan bercanda dengan anak-anak tercinta, karena homo homini lupus telah mengisi monolog sepanjang jalan, namun teks di TV, membangkitkan ingatan akan posting sebelumnya di blog, “Cara Terbaru Sedot Pulsa”. Tentu artikel tersebut akan menyinggung operator telekomunikasi (si kuning, sinyal kuat) yang telah memangsa pulsa saya secara tak bermoral dan terang-terangan. Mengungkap kecurangan korporasi besar, sama artinya saya memancing ribuan serigala untuk memangsa dengan cara lebih kejam kepada ancaman fisik seperti yang dialami pelapor pencurian pulsa.

Tapi ya sudahlah, di saat tidak punya apa-apa, punya kelemahan, justru yang timbul adalah keberanian melawan kejahatan, kecurangan manusia yang lain sekecil apapun. Kejujuran dan keberanian yang pernah dimikili meskipun sedikit jangan pernah digadaikan, apalagi dijual. Apabila semakin sedikit orang yang melawan kecurangan dan kejahatan, di suatu saat nanti bumi ini tidak lagi nyaman untuk tinggal anak cucu kita. Ayo lawan siapa pun juga yang melakukan kecurangan, kejahatan!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *