Cara Terbaru Sedot Pulsa

Bisnis telekomunikasi seluler di Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar menggiurkan investor dari mana pun untuk investasi di negeri ini. Ditambah masyarakat permisif terhadap etika bisnis semaunya investor untuk menyedot pulsa pelanggan dengan cara-cara yang tidak bijak, curang alias haram yang terus dilakukan dengan cara baru yang kreatif dan pelanggan tanpa daya melawan kerakusan korporasi. Pengawasan yang longgar dari pihak yang berwenang dan tidak adanya sanksi ke operator telekomunikasi yang “nakal” membuat semakin marak etika bisnis yang tidak baik (curang) terus dilakukan secara masif.

Meskipun DPR telah membentuk Panja Mafia Pulsa untuk mengusut penyedotan pulsa yang sejak bulan Oktober 2011 telah dihentikan, namun di luar dugaan awal bulan Nopember ini saya menjadi korban dengan cara yang baru. Tragedi dimulai ketika seperti bulan-bulan sebelumnya mengisi abonemen bulanan prabayar koneksi internet dengan voucher isi ulang. Jenis voucher yang digunakan adalah voucher (I*2) khusus untuk koneksi internet, tidak dapat diisikan untuk langganan panggilan suara maupun pesan. Pada voucher ditulis berlaku hingga 10 Desember 2012 lengkap dengan petunjuk pengisian. Kepercayaan yang saya  coba bangun runtuh berkali-kali. Nama besar perusahaan dengan puluhan juta pelanggan bukan jaminan telah menjalankan etika bisnis yang baik namun justru tak bermoral.

Toko tempat pembelian yang telah menjadi langganan memberikan beberapa voucher karena tidak ada nominal satu voucher senilai langganan bulanan Rp 125 ribu. Sampai di rumah voucher digosok dengan koin dan diisikan ke menu yang tersedia sebagaimana bulan-bulan sebelumnya. Sialnya menu untuk isi ulang dengan jenis voucher (I*2) yang saya beli hilang dari daftar menu. Menelepon ke kontak pelanggan dijawab oleh mesin yang menjawab nomor yang anda masukkan salah, meskipun 100% diisikan benar. Kemudian mengajukan pertanyaan tentang menu isi ulang jenis voucher via surel (e-mail) ke layanan pelanggan.

Seperti dugaan saya, petugas akan menjawab dengan template, tanpa berusaha memahami isi pertanyaan pelanggan dan menyarankan mengisi ulang ke tautan pengisian meskipun saya telah menjelaskan menu jenis voucher tersebut tidak ada lagi di tautan pengisian pulsa sebagimana bulan-bulan sebelumnya. Ternyata tautan yang diberikan adalah "alamat palsu" (seperti judul lagu Ayu Ting-ting). Kemudian saya balas email dan lampiran screenshot tampilan layar tahap-tahap pengisian dari referensi tautan yang diberikan petugas operator. Jika kurang jelas saya bersedia mengirimkan rekaman video tampilan layar dari menu ke menu.

Akhir dari tanya jawab saya dengan petugas operator telekomunikasi, petugas yang sebelumnya menjawab berbelit-belit lalu dijawab petugas yang lain menyerah dan mengaku dengan jawaban sebagai berikut: “Menanggapi email yang Bapak kirimkan, dapat kami informasikan bahwa saat ini jenis voucher xxx sudah tidak dapat digunakan untuk pengisian ulang kartu xxx. Namun jika Bapak memiliki voucher xxx atau telah melakukan pembelian terhadap voucher tersebut, kami harap kesediaan Bapak untuk mengunjungi galeri xxx terdekat. Voucher xxx yang Bapak miliki dan belum digunakan akan kami tukar dengan jenis voucher xxx, agar dapat melakukan pengisian ulang kartu xxx yang Bapak miliki.” Gubrakk!!!

Nah, siapa yang rela pergi, mengeluarkan biaya dan waktu untuk mengunjungi kota yang nun jauh di sana sekedar untuk menukar voucher. Belum lagi kemungkinan berhadapan petugas dengan muka curiga melayani pelanggan karena menukar voucher yang telah digosok. Apabila operator mempunyai niat dan tanggung jawab sebenarnya dari jenis voucher khusus koneksi internet tersebut dapat ditukar melalui akun langganan atau email tanpa harus datang ke galeri. Namun nampaknya cara yang digunakan sengaja dipilih karena pelanggan pasti malas datang ke galeri yang jaraknya puluhan kilometer dari tempat tinggal yang kemudian operator dapat untung cuma-cuma tanpa harus melayani pelanggan atau bandwith perusahaan tidak berkurang. Di sinilah letak kecurangan dan kerakusan.

Akhir dari percakapan saya merelakan nilai voucher dan tidak bermaksud menukarkan ke galeri. Tidak lupa saya doakan semoga cara-cara bisnis seperti ini semakin meningkatkan laba perusahaan dan membahagiakan, menyelamatkan di dunia dan akhirat terhadap seluruh karyawan hingga pemegang saham operator yang bersangkutan.

Maksud dari tulisan ini agar pengunjung yang membaca pengalaman saya ini tidak dirugikan akibat membeli voucher yang dinyatakan tidak berlaku sepihak (bertentangan dengan tulisan di voucher). Jika mengajukan keluhan kontak layanan pelanggan, jawaban yang diberikan oleh operator, under estimate (pelanggan bodoh, dianggap tidak tahu cara bisnis curangnya),  justru akan lebih menyakitkan dibanding kelihangan pulsa itu sendiri. Ditambah lagi kehilangan pulsa akibat berbicara dengan petugas yang tarifnya percakapan Rp 400 per menit. Ibarat ngurus kehilangan ayam malah kambing akan ikut hilang pula.

Saat ini omset penjualan pulsa di konter-konter, warung, kios-kios, dsb menurun semenjak penyedotan pulsa dihentikan oleh Pemerintah. Sekarang hemat pulsanya, "Begitu kata pengguna seluler". Namun operator telekomunikasi juga tidak kehilangan akal “kreatif” menyedot pulsa pelanggan dengan cara haram untuk menambah pundi-pundi perusahaan akibat pelarangan penyedotan pulsa oleh pemerintah sejak Oktober lalu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email tak dipublikasi. Panjang komentar 100-600 karakter. Wajib Diisi *

2 + 8 =   <= Wajib jawab kuis, sebelum...