Hitung Zakat Profesi

Foto: Ilustrasi Anak-anak Muslim

Pada 14 abad yang lalu belum dikenal zakat profesi dalam khazanah keilmuan Islam karena sumber pendapatan pada masa itu, profesi atau bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dsb) tertentu belum berkembang. Pada masa itu yang lebih populer adalah pertanian, peternakan dan perniagaan, sehingga zakat mendapatkan jatah pembahasannya sangat memadai dan detil. Di masa sekarang penghasilan dari profesi (dokter, dosen, notaris, konsultan, pegawai negeri/swasta, pengacara, dsb) berkembang pesat dan penghasilannya dapat melebihi penghasilan petani atau peternak.

Alasan para pembayar zakat yang setuju zakat profesi, petani atau peternak saja yang lebih susah-payah dalam proses mendapatkan penghasilan dikenakan zakat, kenapa para pagawai dari kalangan tenaga profesional tidak. Padahal para tenaga profesional dalam mendapatkan penghasilan relatif lebih mudah, hasil lebih besar, dan resiko lebih kecil  daripada petani atau peternak. Meskipun alasan pengenaan zakat menjadi perdebatan, namun hingga kini belum ada fatwa ulama yang melarang seseorang menunaikan zakat profesi. Bahkan secara implisit di Pasal 11 Undang-undang 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, “hasil dari pendapatan dan jasa termasuk harta dikenakan zakat”.

Pajak dan Zakat

Pajak dan zakat pada dasarnya hampir sama yaitu pungutan atas harta yang telah melebihi batas tertentu (nishab) yang diambil dari orang-orang kaya untuk membantu orang-orang miskin demi mengurangi kesenjangan dan untuk pemerataan penghasilan. Keduanya berfungsi saling melengkapi hal/kegiatan yang tidak bisa dibiayai dengan uang pajak namun dapat dengan uang zakat, dan sebaliknya. Hukum bayar pajak wajib bagi setiap penduduk yang punya penghasilan dan zakat juga wajib (fardhu) bagi setiap muslim. Bayar pajak dan zakat juga ada unsur membantu sesama manusia, bayar zakat tidak hanya urusan manusia dengan Tuhannya (habluminallah). Istilah di pajak yaitu Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang besarnya Rp 15.840.000,- per tahun, merupakan perkiraan nilai kebutuhan hidup minimum. Sedangkan zakat juga mengenal istilah nishab yaitu nilai batas terendah wajib zakat yang telah ditetapkan oleh syar’i yang juga memperhitungkan kebutuhan pokok minimum. Jika penghasilan tidak melebihi PTKP/nishab, pajak dan zakat tidak wajib dibayarkan.

Hitung Zakat Profesi.

Bagimana menghitung besarnya zakat profesi, dari bruto atau neto?

Kembali ke awal artikel ini, pada 14 abad yang lalu zakat profesi belum dikenal, dan para ulama belum sepakat dasar penghitungannya. Maka umat Islam di masa sekarang ada yang menghitung dari total penghasilan bruto (gaji, tunjangan, pendapatan lain), tanpa pengurang dikalikan tarif zakat 2,5%. Tidak salah pula jika menghitung berdasarkan pengasilan neto, dengan pengurang terdiri dari potongan pajak, hutang, dan/atau kebutuhan pokok/hidup minimum (makanan, minuman, tempat tinggal, sarana mendapatkan penghasilan) pada keluarga.

Kebutuhan pokok minimum berbeda antara keluarga satu dengan yang lain, ada yang suka berhutang dalam jumlah besar dan suka mengeluarkan biaya hidup berlebihan sehingga mengurangi penghasilan bersih, porsi zakat. Besarnya zakat pun bervariasi bagi masing-masing orang meskipun penghasilan per bulan sama. Naif, bila berhutang dalam jumlah besar dan gaya hidup foya-foya dibebankan sebagai pengurang kewajiban zakat.

Menurut saya demi kehati-hatian dan rasional dalam menghitung zakat profesi, dasar nilainya adalah total penghasilan bruto dikurangi Upah Minimum Provinsi (UMP) dikalikan 2,5%. Alasan tanpa lebih dulu mengurangkan potongan pajak dan angsuran hutang karena potongan/bukti setor zakat dapat dikurangkan pada penghasilan bruto ketika bayar pajak, sedangkan hutang besarnya relatif bagi setiap orang tergantung gaya hidupnya. Ada seseorang yang suka berhutang hingga melebihi separuh dari penghasilan, masa akan dikurangkan porsi pembayaran zakat. UMP yang merupakan perkiraan kebutuhan hidup minimum, apabila sebagai pengurang penghasilan bruto dalam menghitung zakat, rasanya lebih rasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *