Kenapa Ngomong Pajak Bisa Bikin Bosan?

Awal dari setiap presentasi tentang pajak yang diawali dengan definisi pajak menurut Undang-undang, “Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung…” selalu bikin bosan peserta. Apalagi media massa memberitakan uang pajak dikorupsi oleh para pejabat dan makelar pajak. Sungguh menyakitkan, mengerikan…

Kenapa?

Karena memandang pajak, penekanannya dari pendekatan kekuasaan, yaitu kontribusi yang bersifat memaksa, dan tidak mendapat imbalan secara langsung. Kampanye, ajakan, atau iklan jualan sesuatu yang dari definisi saja “menyakitkan” begini siapa sih yang tertarik, sudah dipaksa, tidak dapat imbalan lagi… nyebelin gitu deh bahasa gaul-nya…

Di mana-mana tak ada orang yang benar-benar rela bayar pajak, kecuali terpaksa karena Undang-undang mewajibkan, dan dapat memaksa, menyita, menghukum jika melanggar. Sedapat mungkin pajak dihindari, karena imbalan tidak secara langsung. Pembayar pajak dan bukan pembayar pajak akan merasakan hal yang sama, buruk atau baiknya fasilitas umum yang dibangun dari uang pajak.

Lalu bagaimana agar bicara pajak menarik?

Mungkin cara pandang pajak dari perspektif sosial, kemanusiaan, kebersamaan, sama rata, sama rasa sebagai anak bangsa akan lebih menarik dan menyenangkan. Membayar pajak secara sukarela sebagai bukti kepedulian pada sesama. Dari uang pajak mampu menciptakan lapangan kerja kepada pengangguran, memberikan pendidikan gratis kepada masyarakat kurang mampu, memberikan bantuan sosial, memperbaiki fasilitas umum, jalan, jembatan, dan sebagainya.

Kita hidup di dunia yang sama, we live in the same world. Berbagi kesenangan, kenikmatan kepada sesama penghuni dunia, karena kita mendapat kenikmatan dari dunia itu juga adalah tindakan yang adil. Andaikan tidak ada yang peduli pada sesama, pada dunia, pada alam semesta, maka rusaklah tatanan dunia, dan alam akan membalas ketidakpedulian itu kepada penghuninya.

Contoh nyata saat hutan memberikan kayu yang berlimpah dan manusia menebang seenaknya tanpa peduli, tak menanam kembali maka bencana banjir atau kekeringan akan datang menimpa semua penghuni di sekitarnya. Begitu juga membayar pajak adalah salah satu bentuk keseimbangan alam, berbagi dan peduli kepada sesama. Berbagi oleh kaya ke yang miskin dan kepada alam yang telah memberikan banyak keuntungan.

Ketika pendapatan negara dari penjualan sumber daya alam yang mulai menipis, salah satu cara untuk tetap menjaga kelangsungan negara agar pembiayaan pembangunan dapat terus-menerus dilakukan adalah mencari pendapatan dari pajak dan cukai. Kontribusi pajak di APBN setiap tahun selalu lebih dari 70% dari total belanja pemerintah. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka agar belanja tidak terganggu maka penerimaan pajak harus ditingkatkan karena jika penerimaan tidak tercapai untuk pembiayaan akan mencetak surat utang yang makin membebani pada belanja tahun berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *